Menjangkau area kerja tersulit dengan Metode Rope Acces

 

Semakin marak nya perkembangan infrastruktur di Indonesia, maka semakin banyak tenaga kerja pada ketinggian yang dibutuhkan, akan tetapi kenyataan nya banyak kecelakaan kerja terjadai akibat jatuh dari ketinggian, data yang dihimpun dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan mencatat angka kecelakaan kerja di Indonesia cenderung terus meningkat. sepanjang 2017  tercatat  sebanyak 123 ribu kasus kecelakaan kerja terjadi. pekerja konstruksi menyumbang angka kecelakaan kerja terbesar setelah pekerja pabrik, terutama Kecelakaan kerja akibat jatuh dari ketinggian.

 

Masing masing cara kerja pada ketinggian memiliki kelebihan dan kekurangan dan resiko yang berbeda-beda. Oleh karena itu pengurus maupun manajemen perlu memperhitungkan penggunaan cara dengan memperhatikan aspek efektifitas dan resiko baik yang bersifat finansial maupun non finansial. Aspek resiko akan bahaya keselamatan dan kesehatan kerja harus menjadi perhatian utama semua pihak ditempat kerja.

 

Saat ini telah berkembang pekerjaan pada ketinggian dengan Teknik Akses Tali (Rope Access Technique / RAT). Cara ini dikembangkan dari tehnik panjat tebing dan penelusuran gua. Teknik Akses Tali (Rope Access Technique / RAT) sudah diterapkan secara luas dalam berbagai macam industry.

 

Bekerja di ketinggian membutuhkan tiga hal penting: 

·        Skill 

·        Prosedur Keamanan 

·        Standarisasi Kerja. 

 

Tiga hal ini MUTLAK dalam Rope Access. Seperti di negara lain yang sudah terlebih dulu mengenal dan menggunakan metode Rope Access, nantinya pekerja ketinggian di Indonesia harus memiliki sertifikasi khusus dalam bidang ini. Ditunjang dengan perlengkapan yang di desain khusus sesuai kebutuhan industri, Rope Access terbukti sebagai teknik yang paling aman untuk bekerja diketinggian. Di Singapore dan Malaysia hingga saat ini pekerjaan diketinggian mengalami zero accident dengan penggunaan sistem ini.